"Oknum" Pejabat Intimidasi 3 Wartawan Di Timika

  • 23 Mei 2017 15:51 WITA

Males Baca?
MCW News, Timika | Intimidasi terhadap wartawan kembali terjadi, kali ini dilakukan oleh "oknum" pejabat, yakni Kabid Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mimika Papua Tindakan intimidasi ini dialami 3 wartawan dari surat kabar harian Salam Papua atas nama Aloysius Nasma (Acik), wartawan Radar Timika atas nama Selviana Butu (Selvi) dan wartawan Harian Papua atas nama Siti Aminah (Sitha). Intimidasi dilakukan dengan cara membentak lalu mengusir keluar wartawan dari kantor Bappeda saat sedang melakukan tugas jurnalistik, Selasa (23/5) Berdasarkan keterangan dari 3 wartawan yang mendapat tindakan intimidasi itu, berawal ketika mereka mendatangi kantor Bappeda dan hendak masuk ke ruangan Kabid Pengendalian untuk melakukan wawancara, namun saat ketiganya berada di depan pintu ruangan Kabid Pengendalian, tiba-tiba Kabid Sarana dan prasarana hendak lewat disana, dan tanpa alasan yang jelas langsung membentak wartawan Acik, salah satu wartawan yang dibentak tidak terima, lalu menanyakan alasannya kepada yang bersangkutan, malah yang bersangkutan balik bertanya kepada Acik dengan mengatakan "Ko (Kau) siapa, ko tidak tahu saya kah?', Acik lalu menjawab dan mengatakan 'Saya tidak tahu bapak'. Saat itulah wartawan diusir keluar dari kantor Bappeda oleh oknum tersebut, bahkan yang bersangkutan hendak memukul Acik, beruntung beberapa pegawai berusaha menghalangi upaya pejabat tersebut, namun pejabat itu masih terus berusaha mengejar wartawan hingga ke teras depan kantor Bappeda. Insiden ini kemudian di share oleh ketiga wartawan di grup WhatsApp (WA) kalangan wartawan dan menyampaikan insiden ini ke Kabag Humas Pemkab Mimika, Slamet Sutedjo. Selanjutnya Kabag Humas mengutus Kasubbag Humas, Herlina Imea bersama seorang staf Humas untuk memfasilitasi insiden ini. Saat utusan Kabag Humas tiba di kantor Bappeda, langsung bertemu dengan Kabid Sarana dan prasarana yang berinisial (GL). Setelah berbicara dengan yang bersangkutan, ketiga wartawan kemudian dipanggil masuk ke dalam ruangan, saat bertemu, GL menjelaskan alasannya membentak wartawan, ia mengatakan bahwa merasa jalannya dihalangi oleh wartawan, sehingga dirinya emosi lalu menegur wartawan. Selanjutnya, ia juga menjelaskan mendatangi wartawan saat berada didalam ruangan Kabid Pengendalian. GL menjelaskan bahwa ia merasa sedang diperbincangkan oleh ketiga wartawan, sehingga ia emosi lalu mendatangi wartawan ke dalam ruangan Kabid Pengendalian. Setelah dimediasi oleh Kasubbag Humas bersama stafnya, GL kemudian meminta maaf kepada ketiga wartawan atas perbuatannya itu. Insiden ini mendapat tanggapan dari bidang advokasi Pewarta Foto Indonesia (PFI) Timika, Saldi Hermanto. Saldi mengatakan perbuatan yang sudah membentak orang lain tanpa alasan yang jelas adalah perbuatan semena-mena, "Bagaimana jika pejabat itu dalam posisi sebaliknya, apakah ia terima?" ujar Saldi Selanjutnya, dijelaskan Saldi, "Atas perbuatan mengusir wartawan atau pers yang sedang melakukan tugas jurnalistik dari kantor Bappeda, merupakan perbuatan yang melanggar ketentuan didalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Pejabat yang bersangkutan dianggap telah berupaya menghalangi pers dalam menjalankan tugas jurnalistik. Dalam ketentuan pidana Pasal 18, dikatakan bahwa setiap orang yang melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang dapat menghambat atau menghalangi pers dalam melaksanakan tugas jurnalistik, dalam ketentuan Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 terkait penghalang-halangan upaya media untuk mencari dan mengolah informasi, dapat dipidana dengan kurungan penjara selama 2 tahun, atau denda paling banyak 500 juta rupiah. "Jadi ini ketentuan pidana yang diatur dalam Undang-Undang Pers juga. Apalagi alasan yang bersangkutan adalah karena emosi melakukan tindakan itu, itu tidak dibenarkan sekali, "tegas Saldi. Insiden ini juga ditanggapi oleh bidang advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jayapura, Fabio Costa. Fabio berharap sebagai seorang pejabat di instansi mana pun, sebagai pejabat publik dan aparatur sipil negara (ASN), janganlah bersikap arogan dengan wartawan. Sementara itu Pemimpin Redaksi (Pemred) SKH Salam Papua, Irsul Panca Aditra menyayangkan sikap arogansi oknum pejabat tersebut, "Tindakan yang dilakukan pejabat itu, terhadap wartawan sangatlah tidak terpuji, sebab sebagai penyelanggara negara haruslah berperilaku baik bukan hanya kepada wartawan saja, tetapi kepada siapa saja, apalagi tindakan ini justru dilakukan di kantor instansi pemerintah dan dihadapan pegawai lainnya, tentu ini tidak memberikan contoh yang baik kepada bawahannya, diharapkan setiap pejabat seharusnya menjadikan pekerja pers sebagai mitra, bukan dijadikan musuh, sebab, program pemerintah tidak akan sampai kepada masyarakat tanpa adanya kontribusi dari pers, "pungkas Irsul. (timmcwnews)


TAGS :

Komentar