Hj. Nining Sutahan Berharap: Polisi Dapat Segera Ungkap Pelaku Pembakar Rumah Miliknya!

  • 01 Juli 2017 13:03 WITA

Males Baca?

MCW News, Cianjur | Sebelum pembakaran itu terjadi Hj. Nining seakan sudah memiliki firasat, jika akan ada terjadi sesuatu ditempat kediamannya. Oleh sebab itu, jika pada hari-hari biasanya yang dia lakukan selepas magrib, antara lain kalau tidak melakukan pekerjaan jahit-menjahit, atau membuat beberapa catatan kecil, terkait apa saja yang telah dilakukannya dalam sepanjang hari itu. Biasanya, tidak ada yang satupun yang luput dari pengamatan catatannya. Semua kejadian sekecil apapun bagi Hj Nining, seakan teregristrasi dengan baik dan selalu tercatat dengan akurat di buku catatannya. Tapi, kali ini sepertinya ada pengecualian! Tidak ada keinginan secuil pun untuk melakukan kebiasaan rutinnya, disaat sebelum malam naas itu terjadi. Perempuan tegar, yang merupakan janda mendiang Jenderal TNI Sutahan itu, malah lebih memilih “nimbrung” bersama Iyus (40), yang saat itu tengah mengobrol dengan Encep (60) dan juga RT Ihir (50), yang tengah duduk di panggung lesehan yang sengaja dibuat di tempat itu. Kebiasaannya yang senang mencatat itu diakui Hj. Nining, merupakan sebagai rutinitas keseharian yang telah dilakukannya dari sejak kecil, hingga terbawa dirinya dewasa. Belakangan kebiasaan itu menjadi sesuatu hal yang utama yang mutlak harus dilakukannya. Terlebih lagi, ketika dirinya memutuskan untuk menetap di Kampung Wisata Jangari yang dimulainya pada tahun 2013. Dimana hari-hari setelahnya, banyak hal yang harus dibukukan dan dicatat secara akurat terkait eksistensinya melakukan ekspansi di wilayah lokasi wisata Jangari. Bagi Hj. Nining keberadaan Kampung Jangari bukanlah suatu yang asing. Soalnya, dapat dikatakan masa kecil Hj Nining bersama kedua orang tua dan juga saudara-saudara sekandungnya yang lain, justru dihabiskan dari mulai usia kanak hingga dewasa, di daerah Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, yang notabene tempat kampung kelahirannya tersebut tidak jauh dari lokasi wisata Jangari. “Jadi mohon maaf dalam hal ini saya tidak merasa seperti pendatang yang ujug-ujug saja hijrah ke Kampung Jangari. Pasalnya, asal-usul keluarga besar saya adalah asli dari daerah Mande,” jelas Hj. Nining. Lalu ia menuturkan tentang sejarah asal-usul keluarganya, yang dikatakan termasuk sebagai keluarga terpandang yang dikenal luas tidak saja di lingkungan Kecamatan Mande tapi juga ke wilayah lainnya. Sang ayah yang merupakan sosok pekerja keras, merupakan tuan tanah sebagai bisnis investasi. Maka tidaklah mengherankan jika kegemaran sang ayah tersebut, justru saat ini menurun kepada Hj. Nining yang notabene sebagai anak sulung dari sepuluh bersaudara (Red- terdiri dari lima orang laki-laki dan lima orang perempuan). Sejak ayahnya mangkat, harta tanah warisan yang ditinggalkan oleh sang ayah pun lalu diberikan secara merata kepada kesepuluh anak-anaknya sesuai dengan porsinya masing-masing. Namun Hj. Nining bersikeras tidak mau menerima bagian warisan dari peninggalan orang tuanya tersebut. Bahkan jatah warisannyalalu dibagikan secara merata kepada saudara-saudara sekandungnya yang lain yang lebih membutuhkan. Hal tersebut, ia lakukan semata-mata karena ia merasa yakin, bahwa dirinya bakal mampu mengikuti jejak orang tuanya. Yakni, memiliki tanah yang dapat dibeli dari hasil jerih payahnya sendiri. *** KEGIGIHAN yang dilakoninya dalam hal berbisnis, telah menghantarkannya Hj. Nining sebagai wanita sukses yang memiliki banyak harta kekayaan berupa tanah darat dan sawah yang tersebar di wilayah Bandung, Karawang dan juga di Provinsi Banten. Seiring dengan waktu, serta mengikuti saran dari anak-anaknya yang saat ini kesemuanya sudah berumah tangga, Hj. Nining pun lalu menjual aset miliknya yang tersebar diluar Kabupaten Cianjur tersebut, dengan nilai penjualan sebesar puluhan milyar rupiah itu, untuk diinvestasikan kembali membebaskan lahan di daerah Kampung Jangari, Kabupaten Cianjur. “Dari hasil penjualan asset tersebut, lalu saya investasikan kembali dengan membeli lahan garapan milik rakyat di daerah Leuwi Orok Kampung Jangari dan daerah Kampung Salam, yang waktu itu saya awali pada tahun 2013,” terang Hj. Nining. Oleh sebab itu, Hj. Nining merasa kecewa jika ada anggapan bahwa tanah garapan yang saat ini telah dikuasainya, didapat dari usaha merampas. Padahal fakta sesungguhnya yang terjadi, menurut dia, justru para penggarap tanah tersebut itulah, yang datang dengan sukarela menawarkan tanah garapan beserta bangunannya tersebut, untuk dibeli olehnya. Maka tidaklah mengherankan jika saat ini Hj. Nining Sutahan, memiliki penguasaan lahan garapan terluas di daerah Leuwi Orok Kampung Jangari. Dimana kondisi daerah tersebut, yang sebagian besar lahan garapannya telah dikuasainya itu, merupakan sebagai pusatnya lokasi parawisata Jangari, dan lahan tersebut kini telah memiliki nilai strategis yang bernilai ekonomi tinggi karena keberadaannya yang terletak ditengah keramaian lokasi wisata. Karena memiliki nilai strategis itu, menurut Hj. Nining, menjadi banyak orang yang ingin memiliki lahan tersebut, walaupun harus dilakukannya dengan cara-cara yang tidak sehat. Dikatakannya, betapa vulgarnya, kejadian tanggal 22 Mei 2017 itu, demi keinginan memiliki lahan yang saat ini telah dikuasainya, ada segelintir orang yang dengan tega telah memprovokasi masyarakat untuk melakukan perbuatan anarkis. Yakni, dengan cara melakukan pembakaran mobil dan rumah miliknya yang terletak di Kampung Jangari RT 4/11, Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, pada Minggu, (22/5/2017). “Saya hanya dapat berharap semoga polisi dapat segera mengungkap pelaku pembakaran tersebut, dan memprosesnya secara hukum yang berlaku,” ujarnya berharap. (timmcwnews)



TAGS :

Komentar