Dalam Sidang, Saksi dari IDI Sebut Tak Berniat Penjarakan Jerinx

  • 13 Oktober 2020 21:15 WITA
Males Baca?


MCWNEWS.COM, DENPASAR - Sidang kasus dugaan ujaran kebencian terhadap Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan terdakwa I Gede Ary Astina alias Jerinx, Selasa (13/10/2020) kembali dilanjutkan.

Dalam sidang yang dipimpin Hakim Ida Ayu Nyoman Adnya Dewi dan  berlangsung secara offline atau tatap muka itu, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan tiga orang saksi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bali. 

Namun sayang, meski sidang berlangsung secara tatap muka, tapi tidak semua wartawan diperbolehkan masuk ruang sidang, sehingga sebagain besar wartawan kesulitan melakukan peliputan. 

Alhasil, sebagain besar wartawan hanya bisa mendapatkan informasi seputar persidangan dari  memwawancarai saksi maupun terdakwa Jerinx usai memberi kesaksian di muka sidang. 

Salah satunya adalah mewawancarai Ketua IDI Bali, dr. Gede Putra Suteja, saksi pelapor dan saksi yang paling pertama diperiksa di muka sidang. 

Kepada wartawan, dr. Suteja mengaku sama sekali tidak mengetahui dan membaca isi postingan sebelumnya yang dituliskan oleh jerinx.

"Saya tidak membaca semua postingan yang ditulis oleh Jerinx, saya hanya membaca soal postingan yang isinya menyebut IDI kacung WHO," ungkapnya di muka sidang.

Nah, sebutan bahwa IDI kacong WHO itu, menurut Suteja sangat melukai hati para dokter yang selama ini sebagai garda depan dalam menangani wabah virus Corona. 

"Bayangkan, sudah berapa banyak kawan kita dokter yang meninggal sejak virus Corona mewabah. Nah, tiba - tiba ada postingan yang menyebut bahwa IDI kacung WHO ungkap Suteja. 

Namun begitu, Suteja mengakui bahwa sejatinya Jerinx adalah orang baik. "Saya tahu Jerinx itu orang baik. Tapi organisasi mana yang tidak marah kalau dibilang kacung, coba kalau organisasi teman-teman wartawan dibilang kacung, pasti marah kan," kata Sujeta sembari bertanya kepada wartawan. 

Sementara Jerinx usai sidang mengatakan bawah, ada yang luput dari pantauan teman-teman wartawan. Bahwasanya, kata Jerinx, sebelum adanya postingan yang menyebutkan IDI kacung WHO, dia pernah mengajak IDI untuk berdiskusi. 

"Jadi begini, saya beberapa kali sudah mengajak rekan-rekan dari IDI untuk berdiskusi, tapi ajakan saya tidak pernah ditanggapi," ungkap Jerinx. 

Jerinx mengaku mengajak IDI untuk berdiskusi karena banyak orang meminta bantuan kepadanya, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Bahkan Jerinx mengaku pernah menanyakan melalui positingannya mengenai kenapa ibu yang mau melahirkan terlebih dahulu dipaksa untuk melakukan rapid tes.

"Bahkan saya siap untuk melakukan tatap muka dalam diskusi, tapi tak pernah ditanggapi," ungkanya. Sebagai orang seni, kata Jerinx bahwa ungkapannya tidak ada maksud merendahkan atau melemahkan para dokter.

Saksi dr.Suteja kembali menegaskan, bahwa IDI tidak ada di bawah naungan WHO. Namun mengapa harus melaporkannya Jerinx, karena ada desakan dari IDI, baik di wilayah maupun ditingkat pusat.

Menarik lagi, di muka sidang Jerinx sempat bertanya kepada salah satu saksi, apakah memang ada niatan dari IDI untuk memenjarakannya? ditanya seperti itu saksi lain menjawab bahwa tidak ada niatan dari IDI untuk memenjarakan terdakwa. 

"Kami dari IDI tidak punya niatan untuk memenjarakan siapa saja, karena itu bukan kewenangan kami. Yang kami laporkan itu adalah postingannya karena menurut rekan-rekan kami di IDI itu (postinhan soal kacung WHO) tidak benar," jawab saksi. (EL)



TAGS :

Komentar