Disidang, Pembunuh Teller Bank Terancam 10 Tahun Penjara

  • 14 Januari 2021 19:45 WITA
Males Baca?


MCWNEWS.COM, DENPASAR - Kasus pencurian dengan kekerasan hingga menyebabkan teller bank bernama Ni Putu Widiastiti (25) tewas secara mengenaskan dengan terdakwa PHAP (14) mulai disidangkan.

Agenda sidang yang digelar virtual ini mengagendakan pembacaan dakwaan dan dilanjutkan dengan mendengar keterangan 9 orang saksi.

"Ada 9 orang saksi yakni 2 saksi polisi dan yang 7 orang saksi umum," ucap jaksa Ni Putu Widyaningsih usai sidang dengan majelis hakim yang diketuai Hari Supriyanto, Kamis (14/1/2021) di Pengadilan Negeri Denpasar.

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) menjerat PHAP dengan dakwaan primair yakni Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP, lebih subsider Pasal 365 ayat (3) KUHP.

Atas jeratan pasal tersebut,  maka terdakwa/pelaku anak teracam hukuman maksimal 10 tahun penjara. 

Dalam dakwaan diuraikan, sebelum melakukan aksinya terdakwa mengambil pisau dapur dan menyelipkan di pinggangnya, Minggu (27/12/2020) sekitar pukul 16.00 Wita.

Setelah itu terdakwa berjalan menuju rumah korban yang jaraknya kurang lebih 25 meter dari tempat kosnya. Di sana mengawasi keadaan sekitar sembari melihat situasi rumah korban.

Saat itu pintu gerbang rumah korban tertutup dengan kunci gembok hanya tercantol di pintu, sementara korban terlihat berada di halaman belakang rumahnya.

Terdakwa lalu masuk ke rumah korban dengan cara memanjat pagar tembok di sisi sebelah timur rumah korban yang tingginya kurang lebih 2 meter dan langsung masuk ke dalam rumah korban melewati pintu depan rumah yang tidak terkunci.

Sampai di dalam terdakwa menuju kamar yang berada di lantai bawah dan mencari barang-barang berharga yang ada di kamar tersebut. Namun baru membuka lemari, korban masuk ke rumah dan lewat di depan kamar.

Terdakwa lalu sembunyi di balik pintu kamar, sementara korban langsung naik ke kamar di lantai 2. Setelah korban berada di lantai atas, terdakwa ikut naik ke lantai atas.

Di sana korban berdiri di depan kamar dengan posisi membelakangi terdakwa sambil memainkan handphone. Rupanya korban mengetahui keberadaan terdakwa dan berteriak maling sebanyak 5 kali.

Mendengar itu terdakwa berlari mendekati korban dan mendorongny ke belakang sehingga korban jatuh di atas kasur. Terdakwa kemudian membekap mulut korban dengan menggunakan tangan kiri.

"Ketika korban berusaha melepas bekapan, terdakwa mengambil pisau yang sudah disiapkan dan menusukkan pisau tersebut ke arah paha kiri korban," tutur jaksa.

Korban berusaha merebut pisau dari tangan terdakwa. Setelah didapat korban menusukkan pisau tersebut ke lengan kiri terdakwa. Namun tak lama terdakwa berhasil merebut pisau dari korban dan kembali menusuk korban kurang lebih 38 kali.

Setelah korban sudah tak berdaya, terdakwa anak turun ke lantai bawah menuju kamar mandi untuk membersihkan luka bekas tusukan korban di tangan kirinya.

Lantaran darah terus mengalir terdakwa mengambil jaket kain warna abu-abu milik korban untuk menutupi lukanya. Setelah itu terdakwa naik kembali ke lantai atas untuk mencari barang berharga milik korban.

Di sana terdakwa mengambil uang Rp 200 ribu dari dalam tas warna putih krem milik korban. Terdakwa juga sempat akan mengambil handphone korban, namun lantaran berisi sandi, ia mengurungkan niatnya.

Selain mengambil uang, terdakwa juga mengambil sepeda motor milik korban. Setelah itu ia kabur ke rumah temannya yang bernama saksi KAW alias Tata di Pantai Penimbangan, Buleleng.

Oleh KAW, terdakwa diajak ke tempat kos milik Ros untuk membersihkan luka. Setelah itu terdakwa diajak ke tempat Kansa (DPO) yang membantu menggadaikan sepeda motor milik korban sebesar Rp 3 juta.

Sementara hasil Visum Et Revertum dokter Forensik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, kematian korban diakibatkan luka tusuk yang bersifat fatal yakni di dada samping kanan dan tiga buah luka tusuk pada perut kanan atas.

(eli)



TAGS :

Komentar