KPK Endus Cara Licik Stafsus Edhy Prabowo untuk Dapat Izin Ekspor Benur

  • 10 Februari 2021 11:40 WITA
Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri
Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengendus adanya upaya jahat yang dilakukan oleh tersangka Andreau Misanta Pribadi (AMP) untuk memuluskan perolehan izin ekspor benih lobster (benur). Andreau diduga meminjam perusahaan orang untuk memuluskan upayanya mendapatkan izin ekspor benur.

Demikian hal itu terungkap setelah penyidik memeriksa dua saksi yang merupakan seorang pengusaha, Bachtiar Tamin dan Baaru Elmirfak Hatmadja pada Selasa, 9 Oktober 2021. Keduanya diperiksa terkait kasus dugaan suap pengurusan izin ekspor benih lobster untuk penyidikan tersangka Edhy Prabowo (EP).

"Kedua saksi tersebut dikonfirmasi terkait dengan dugaan penggunaan perusahaan milik para saksi oleh tersangka AMP (Andreau Misanta Pribadi) dari tahun 2018 untuk mendapatkan izin sebagai eksportir benur di KKP tahun 2020," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Rabu (10/2/2021).

Andreau Misanta Pribadi sendiri merupakan mantan Staf Khusus (Stafsus) Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo sekaligus bekas Caleg dari PDI-Perjuangan. Ia ditetapkan sebagai tersangka penerima suap terkait pengurusan izin ekspor benih lobster tahun 2020.

Sebenarnya, penyidik juga memanggil sejumkah saksi lainnya dalam perkara ini, pada Selasa, 9 Oktober 2021, kemarin. Mereka adalah Kepala Karantina Jakarta 1, Habrin Yake, serta tiga wiraswasta yakni, Sugianto; Dian Nudin; dan Bong Lannysia. Mereka mangkir alias tidak hadir pada panggilan pemeriksaan kemarin.

"Tim penyidik KPK akan segera kembali  mengirimkan surat panggilan dan KPK tetap menghimbau para saksi untuk kooperatif hadir sesuai dengan jadwal pemanggilan selanjutnya," pungkas Ali.

Sejauh ini, KPK telah menetapkan tujuh tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan ekspor benih lobster. Ketujuh tersangka itu yakni, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (EP); Stafsus Menteri Kelautan dan Perikanan, Safri (SAF) dan Andreau Misanta Pribadi (AMP).

Kemudian, Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi (SWD); Staf Istri Menteri Kelautan dan Perikanan, Ainul Faqih (AF); dan pihak swasta Amiril Mukminin (AM). Sementara satu tersangka pemberi suap yakni, Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

Edhy bersama Safri, Andreau Pribadi Misanta, Siswadi, Ainul Faqih, dan Amril Mukminin diduga menerima suap sebesar Rp 10,2 miliar dan USD 100 ribu dari Suharjito. Suap tersebut diberikan agar Edhy memberikan izin kepada PT Dua Putra Perkasa Pratama untuk menerima izin sebagai eksportir benur.

Sebagian uang suap tersebut digunakan oleh Edhy dan istrinya, Iis Rosyati Dewi untuk belanja barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Sekitar Rp750 juta digunakan untuk membeli jam tangan Rolex, tas Tumi dan Louis Vuitton serta baju Old Navy.

(ads)



TAGS :

Komentar