Dijebloskan ke Penjara oleh KPK, Nurdin Abdullah : Saya Ikhlas

  • 28 Februari 2021 08:29 WITA
Nurdin Abdullah kenakan rompi tahanan KPK saat ditetapkan sebagai tersangka
Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung menahan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah, usai diperiksa secara intensif pada Minggu, 28 Februari 2021, dini hari. Nurdin dijebloskan ke Rumah Tahanan (Rutan) KPK Cabang Pomdam Jaya, Jakarta.

Nurdin keluar dari Gedung Merah Putih KPK usai menjalani pemeriksaan sekira pukul 03.55 WIB. Dengan mengenakan rompi tahanan KPK khas berwarna orange, Nurdin mengaku pasrah dan siap menjalani proses hukumnya. Ia mengaku ikhlas atas kasus yang menimpanya.

"Saya ikhlas menjalani proses hukum. Tidak tahu apa-apa kita, ternyata si Edy itu melakukan transaksi tanpa sepengetahuan saya," ungkap Nurdin di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Minggu (28/2/2021), malam.

Baca juga: Ditetapkan Tersangka KPK, Nurdin Abdullah Diduga Terima Fee Proyek Rp5,4 Miliar

Politikus PDI-Perjuangan itu mengklaim sama sekali tidak tahu-menahu transaksi yang dilakukan Sekdis PUPR Sulsel, Edy Rahmat. Bahkan, ia berani bersumpah atas keterangannya itu. Kendati demikian, ia tetap meminta maaf kepada masyarakat Sulsel atas kasus yang menyeretnya ini.

"Sama sekali tidak tahu. Demi Allah, Demi Allah. Ya saya mohon maaf (untuk masyarakat Sulsel)," pungkasnya.

Selain Nurdin, KPK juga langsung menaha Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (Sekdis PUTR) Pemprov Sulsel, Edy Rahmat dan Direktur PT Agung Perdana Bulukumba, Agung Sucipto. Nurdin Abdullah dan dua tersangka lainnya ditahan di tiga rutan berbeda.

Baca juga: Tiba di KPK Pasca-OTT, Nurdin Abdullah Diperiksa Intensif

Nurdin Abdullah ditahan di Rutan Pomdam Jaya Guntur. Sedangkan Edy Rahmat ditahan di Rutan KPK Kavling C1, dan Agung Sucipto ditahan di Rutan Gedung Merah Putih. Ketiganya ditahan untuk 20 hari pertama atau setidaknya hingga 18 Maret 2021.

"NA (Nurdin Abdullah) ditahan di Rutan Cabang KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur; ER (Edy Rahmat) ditahan di Rutan Cabang KPK pada Kavling C1; AS (Agung Sucipto) ditahan di Rutan Cabang KPK pada Gedung Merah Putih," kata Ketua KPK, Firli Bahuri saat konpers di Gedung KPK.

Sebelum mendekam di sel tahanan masing-masing, ketiga tersangka bakal menjalani isolasi mandiri di Rutan KPK Kavling C1. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19.

"Untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 di lingkungan Rutan KPK, para Tersangka akan dilakukan isolasi mandiri di Rutan KPK Kavling C1," ucap Firli.

Sebelumnya, KPK menetapkan Nurdin Abdullah sebagai tersangka atas kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengadaan barang dan jasa, perizinan serta pembangunan infrastruktur di Sulawesi Selatan tahun anggaran 2020-2021. Ia diduga telah menerima suap dan gratifikasi.

Nurdin ditetapkan bersama dua orang lainnya. Keduanya yakni, Sekretaris Dinas (Sekdis) PUTR Sulawesi Selatan, Edy Rahmat (ER), selaku pihak yang diduga sebagai perantara suap sekaligus orang kepercayaan Nurdin Abdullah dan seorang kontraktor, Agung Sucipto (AS) selaku pemberi suap.

Nurdin diduga menerima suap Rp2 miliar dari Agung Sucipto melalui perantaraan Edy Rahmat. Uang suap sebesar Rp2 miliar itu diduga terkait keberlanjutan proyek wisata yang akan dikerjakan oleh Agung Sucipto di Bulukumba.

Selain suap dari Agung Sucipto, KPK menduga Nurdin juga menerima uang atau gratifikasi dari kontraktor lainnya. Nurdin diduga menerima gratifikasi dari kontraktor lainnya sebesar Rp3,4 miliar yang berkaitan proyek di Sulsel.

(ads)



TAGS :

Komentar