Terungkap, Fee Bansos Corona Rp3 Miliar Digunakan untuk Bayar Jasa Hotma Sitompul

  • 08 Maret 2021 20:35 WITA
Suasana sidang kasus dugaan suap pengadaan bansos Covid-19 di Pengadilan Tipikor Jakarta

Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Nama Pengacara kondang, Hotma Sitompul muncul dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap terkait pengadaan paket bantuan sosial (bansos) untuk penanganan Covid-19 di wilayah Jabodetabek, pada hari ini, Senin (8/3/2021).

Hotma disebut menerima uang Rp3 miliar yang berasal dari pengumpulan fee paket bansos corona. Uang Rp3 miliar itu merupakan pembayaran atas jasa Hotma sebagai Advokat dalam mengurus perkara di Kementerian Sosial (Kemensos), saat itu.

Baca juga: Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Lahan, KPK Tetapkan Dirut BUMD DKI Sebagai Tersangka

Demikian diungkapkan mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kemensos pengadaan bantuan sosial (bansos) Covid-19, Adi Wahyono, dalam sidang hari ini. Adi mengaku telah menyerahkan uang senilai Rp3 miliar kepada Hotma Sitompul yang bersumber dari fee pengadaan bansos penanganan Covid-19.

"Ada bayar pengacara, bayar untuk kebutuhan kunjungan kerja ke Semarang, kemudian ada, biaya lainnya untuk sewa pesawat," kata Adi Wahyono di persidangan, Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Senin (8/3/2021).

Jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemudian mencecar Adi mengenai siapa sosok pengacara yang menerima uang dari fee bansos corona, serta motif pemberian uang itu.

Baca juga: Sambangi KPK, MAKI Bongkar Dugaan Penyimpangan Pajak Rp1,7 Triliun

"Pengacara apa maskudnya?," tanya Jaksa KPK

"Waktu itu ada kasus di Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, ada kasus anak yang di Pengadilan Tangerang atau mana, saya lupa, itu saya dipanggil pak menteri untuk membyar pengacara," jawab Adi.

Pembayaran jasa Hotma Sitompul, kata Adi, merupakan perintah langsung dari  Juliari Peter Batubara selaku Menteri Sosial (Mensos). Bahkan, harganya jasa pengacara kepada Hotma Sitompul pada saat itu sebesar Rp 3 miliar.

"Berapa?," tanya Jaksa.

"Pada saat itu, menyiapkan dana sekitar Rp 3 miliar," jawab Adi.

Lantas, Jaksa menanyakan di muka sidang siapa pengacara yang di sewa Juliari dengan bayaran mencapai Rp 3 miliar itu.

"Pengacaranya siapa namanya?," tanya Jaksa.

"Pak Hotma Sitompul," ungkap Adi.

Selain itu, Adi mengungkapkan uang Rp 3 miliar untuk membayar Hotma Sitompul dia mintai dari  mantan PPK Kemensos, Matheus Joko Santoso. Diduga, Matheus Joko ditunjuk sebagai pengepul uang fee pengadaan bansos penanganan Covid-19 untuk wilayah Jabodetabek.

"Jadi akhirnya saudara minta ke Pak Joko, dikasih?," cetus Jaksa.

"Iya (minta Joko)," kata Adi.

Dalam perkara ini, Presiden Direktur PT Tiga Pilar Agro, Harry Van Sidabukke dan konsultan hukum, Ardian Iskandar Maddanatja didakwa menyuap mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara senilai Rp3,2 miliar. Suap itu disebut untuk memuluskan penunjukan perusahaan penyedia bantuan sosial (bansos) untuk penanganan Covid-19 di wilayah Jabodetabek.

Jaksa menyebut Harry Van Sidabukke menyuap Juliari Batubara sebesar Rp1,28 miliar. Sedangkan Ardian Iskandar, disebut Jaksa, menyuap Juliari senilai Rp1,95 miliar. Total suap yang diberikan kedua terdakwa kepada Juliari sejumlah Rp3,2 miliar.
Harry Sidabukke disebut mendapat proyek pengerjaan paket sembako sebanyak 1,5 juta melalui PT Pertani (Persero) dan PT Mandala Hamonganan Sude. Sementara Ardian, menyuap Juliari terkait penunjukkan perusahaannya sebagai salah satu vendot yang mengerjakan pendistribusian bansos corona.

Uang sebesar Rp3,2 miliar itu, menurut Jaksa, tak hanya dinikmati oleh Juliari Peter Batubara. Uang itu juga mengalir untuk Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pengadaan bansos Covid-19 di Direktorat Perlindungan dan Jaminan Sosial Korban Bencana Kemensoso, Adi Wahyono serta Matheus Joko Santoso.

(ads)



TAGS :

Komentar