Ketua KPK : Esensi Nyepi untuk Mengendalikan Diri dari Ketamakan dan Korupsi

  • 14 Maret 2021 21:30 WITA
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri
Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri turut memperingati Hari Raya Nyepi yang jatuh tepat pada hari ini, Minggu (14/3/2021). Dalam memperingati Hari Raya Nyepi ini, ia turut menyampaikan pesan pemberantasan korupsi.

Menurutnya, esensi dari Hari Raya Nyepi merupakan untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu dan ketamakan korupsi.  Firli menjelaskan Nyepi memiliki filosofi penyucian Buana Alit (manusia), Buana Agung (alam dan seluruh isinya) agar tercipta suasana sepi.

Baca juga: KPK Usut Dugaan Arahan Gubernur Sulsel untuk Muluskan PT CSP Menangkan Proyek Jalan

"Sepi dari hiruk pikuknya gemerlap kehidupan duniawi yang membangkitkan hawa nafsu, keserakahan serta ketamakan dalam diri manusia, dengan menyucikan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit melalui Catur Bratha," ujar Firli melalui keterangan resminya, Minggu (14/3/2021).

Saat Nyepi dan melaksanakan Catur Bratha, kata Firli, akan kentara sekali tingkat pengendalian diri seseorang terhadap dirinya. Sebab, sambungnya, esensi dari Nyepi dan Catur Bratha adalah bagaimana kita dapat mengendalikan hawa nafsu yang membangkitkan ketamakan, sisi kelam manusia. 

Baca juga: Firli Cerita 17 Tahun Berdirinya KPK, Diwarnai Intimidasi Hingga Ancaman

"Bukan hanya Hindu, pesan pengendalian hawa nafsu dan ketamakan juga disampaikan oleh agama Islam, Kristen, Buddha dan aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa," ungkapnya.

Firli menambahkan, korupsi dan perilaku koruptif adalah salah satu bentuk hawa nafsu dan ketamakan yang memiliki dampak destruktif bukan hanya bagi keuangan dan perekonomian semata, namun dapat menghancurkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

"Banyak contoh negara yang hancur karena korupsi, apalagi kejahatan kemanusiaan tersebut dibiarkan tumbuh subur dan menjadi budaya sehingga menjalar lalu merusak seluruh tatanan dan tata kelola bernegara bangsa tersebut," beber Firli.

"Kita semua tentunya sependapat bahwa kendala terbesar negeri ini untuk menjadi bangsa yang besar adalah masih merajalelanya korupsi," imbuhnya.

Jenderal bintang tiga ini menilai, tidak sedikit yang masih beranggapan bahwasanya korupsi merupakan hal biasa hingga menjadi kebiasaan di republik ini. Tentu, cara pandang dan pemahaman seperti ini sangat keliru dan harus dirubah.

"Salah satunya dengan memaknai esensi Nyepi dan Catur Bratha dalam setiap individu dan seluruh eksponen bangsa, agar negeri ini dapat segera terlepas dari gurita korupsi yang telah lama mencengkram republik ini," kata Firli

'"Jika dicermati secara utuh, esensi Nyepi dan Catur Bratha juga sebagai salah satu bentuk pendidikan untuk membangun karakter, integritas dan semangat anti korupsi, mengingat muara dari persoalan korupsi adalah hilangnya integritas, karakter serta nilai-nilai antikorupsi dalam diri bangsa ini," pungkasnya.

(ads)



TAGS :

Komentar