Jumat Keramat, KPK Jebloskan RJ Lino ke Penjara

  • 26 Maret 2021 22:35 WITA
Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di kantornya, Jalan Kuningan Persada Jakarta Selatan, Jumat (26/3/2021)
Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya menahan Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pelindo II, Richard Joost Lino (RJ Lino). RJ Lino dijebloskan ke penjara setelah selama lima tahun melenggang bebas dengan statusnya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan tiga unit Quay Container Crane (Qcc) di Pelindo II.

RJ Lino ditahan setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka pada hari ini. Sebelum resmi dibui, Lino ditampilkan oleh KPK saat konpers penahanan dirinya. Ia terus menunduk saat ditampilkan ke publik. Lino akan menjalani masa penahanan pertamanya selama 20 hari kedepan di Rutan Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan.

"Untuk kepentingan penyidikan, KPK menahan tersangka selama 20 hari terhitung sejak tanggal 26 Maret 2021 sampai dengan 13 April 2021 di Rutan Rumah Tahanan Negara Klas I Cabang Komisi Pemberantasan Korupsi," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di kantornya, Jalan Kuningan Persada Jakarta Selatan, Jumat (26/3/2021) 

Kata Alex, sapaan karib Alexander Marwata, sebagai pemenuhan protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19 di lingkungan Rutan KPK, RJ Lino akan dilakukan diisolasi mandiri terlebih dahulu. RJ Lino akan diisolasi mandiri selama 14 hari di Rutan Cabang KPK pada Gedung ACLC KPK di Kavling C1.

"Selama proses penyidikan (RJ Lino), telah dikumpulkan berbagai alat bukti diantaranya keterangan 74 orang saksi dan penyitaan barang bukti dokumen yang terkait dengan perkara ini," imbuhnya.

Atas perbuatannya, RJ Lino disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) dan/atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Usai ditampilkan di hadapan publik, RJ Lino langsung dibawa keluar untuk menjalani masa tahanannya di Rutan KPK. Dengan mengenakan rompi orange tahanan KPK dan membawa sebuah tas besar, RJ Lino keluar dari Gedung KPK didampingi oleh petugas.

Dalam kesempatan itu, RJ Lino mengaku senang atas penahanannya. Sebab, selama lebih dari lima tahun, tidak ada kejelasan dari KPK atas penanganan kasusnya. Padahal, Lino sendiri sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak akhir 2015.

"Ini pertama saya senang sekali setelah lima tahun menunggu di mana saya diperiksa tiga kali dan sebenarnya engga ada artinya apa-apa pemeriksaan itu, hari ini saya ditahan, jadi supaya jelas statusnya," kata RJ Lino di lobi Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (26/3/2021).

Lino pun mempertanyakan soal dugaan kerugian keuangan negara dalam kasusnya yang sempat dipaparkan KPK. Lino menekankan soal kerugian negara akibat biaya pemeliharaan Quay Container Crane (QCC) di PT Pelindo II, seharusnya bukan tanggung jawab dia.

"Saya mau tanya apa urusannya Dirut maintenance? Engga lah. Perusahaan itu perusahaan gede, urusan pemeliharaan bukan urusan Dirut. 22 ribu dolar itu 300 juta. Dibagi 6 tahun, 50 juta setahun. Bagi 3 crane, 16 juta satu crane, bagi 365 hari 40 ribu rupiah perhari," tegas Lino.

"Dan alat itu sampai sekarang kalau kalian ke lapangan sudah 10 tahun ya, availablelitynya itu 95 persen, jadi istimewa sekali," sambungnya.

Alexander mengakui, hingga saat ini, pihaknya memang baru menerima kerugian negara dari segi pemeliharaan tiga QCC asal PT HuaDong Heavy Machinery (HDHM) tersebut. Kerugian negara akibat pemeliharaan tiga QCC itu mencapai 22.828 dolar AS atau setara Rp329.065.620 (kurs dolar AS ke rupiah saat ini).

"KPK telah memperoleh data dugaan kerugian keuangan dalam pemeliharaan 3 unit QCC tersebut sebesar 22.828,94 dolar AS," kata Alexander Marwata saat menggelar konpers di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (26/3/2021).

Sementara itu, diakui Alexander, pihaknya belum mendapatkan kerugian keuangan negara dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait pengadaan atau pengiriman tiga QCC tersebut. Sebab, HuaDong Heavy Machinery Co. Ltd (HDHM) atau perusahaan yang memproduksi QCC itu, tak memberi data harga riil.

(ads)



TAGS :

Komentar