KPK Sita Dokumen Perbankan Usai Geledah Kantor dan Rumah Tersangka Suap Walkot Tanjungbalai

  • 30 April 2021 17:55 WITA
Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rampung menggeledah dua lokasi di daerah Pondok Aren, Tangerang Selatan, pada Kamis, 28 April 2021, kemarin. Dua lokasi yang digeledah yakni kantor dan kediaman Pengacara (MH).

MH merupakan tersangka kasus dugaan suap terkait upaya penghentian penyelidikan kasus dugaan korupsi di Tanjungbalai. Penggeledahan di rumah dan kantor MH dilakukan untuk mencari bukti tambahan yang berkaitan dengan perkara ini.

Baca juga: Pimpinan DPR Azis Syamsuddin Dilarang Pergi ke Luar Negeri terkait Kasus Suap Penyidik KPK

"Kamis (29/4/2021), tim penyidik telah selesai melaksanakan upaya paksa penggeledahan di dua lokasi berbeda di wilayah Pondok Aren, Tangerang Selatan yaitu rumah kediaman dan kantor milik tersangka MH," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Jumat (30/4/2021).

Penyidik mengamankan sejumlah dokumen data perbankan dan barang elektronik dari rumah serta kantor MH Sejumlah dokumen dan barang elektronik itu diduga berkaitan dengan perkara ini.

"Saat proses penggeledahan tersebut, ditemukan dan diamankan bukti-bukti diantaranya berbagai dokumen data perbankan dan barang elektronik yang diduga terkait dengan perkara," beber Ali.

"Selanjutnya bukti-bukti ini, akan segera di lakukan validasi serta verifikasi untuk segera diajukan penyitaan sebagai bagian dalam berkas perkara dimaksud," imbuhnya.

Baca juga: Prof Indriyanto Seno Adji Resmi Jabat Anggota Dewas KPK

Sebelumnya, KPK telah menetapkan penyidik lembaga antirasuah asal Polri, AKP Stepanus Robin Pattuju sebagai tersangka kasus dugaan suap. Ia ditetapkan sebagai tersangka bersama Wali Kota Tanjungbalai, M Syahrial dan seorang pengacara, MH..

AKP Stepanus Robin bersama MH diduga menerima suap sebesar Rp1,3 miliar dari Syahrial. Suap itu bertujuan untuk menghentikan penyelidikan kasus dugaan suap terkait jual-beli jabatan di lingkungan Pemkot Tanjungbalai yang disinyalir melibatkan Syahrial.

Awalnya, M Syahrial sepakat menyiapkan dana Rp1,5 miliar untuk Robin dan MH agar bisa menghentikan penyelidikan dugaan suap jual-beli jabatan tersebut. Kesepakatan itu terjadi di rumah dinas Wakil Ketua DPR asal Golkar Aziz Syamsuddin.

Baca juga: KPK Kembali Jerat Eks Bupati Talaud Sri Wahyumi, Kali Ini Tersangka Gratifikasi

Namun, dari kesepakatan awal Rp1,5 miliar, AKP Robin dan MH baru menerima uang suap total Rp1,3 miliar. Uang itu ditransfer M Syahrial ke rekening bank milik seorang wanita, Riefka Amalia.

Selain suap dari M Syahrial, AKP Robin diduga juga telah menerima uang atau gratifikasi dari pihak lain sejak Oktober 2020 sampai April 2021 sebesar Rp438 juta. Gratifikasi sebesar Rp438 juga itu ditampung melalui rekening Riefka Amalia.

(ads)



TAGS :

Komentar