Ironi Novel Baswedan, Dihargai Internasional Tapi Merasa Dimusuhi Negeri Sendiri

  • 13 Mei 2021 12:13 WITA
Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Novel Baswedan, nama yang tak asing dalam dunia pemberantasan korupsi. Lekat dengan kasus-kasus besar yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia juga yang menjadi korban penyiraman air keras oleh dua anggota Polri hingga membuat matanya rusak.

Novel merupakan Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) di KPK. Kerap memimpin operasi senyap lembaga antirasuah. Belakangan ini, namanya disebut-sebut lagi. Tapi, bukan karena Operasi Tangkap Tangan (OTT) ataupun berkaitan dengan penanganan kasus besar. Nama Novel kini santer terdengar karena terancam akan dipecat sebagai pegawai KPK.

Baca juga: Beredar SK Penonaktifan Novel Baswedan Dkk, Ini Penjelasan KPK

Novel Baswedan dikabarkan masuk dalam 75 nama pegawai KPK yang tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dalam rangka alih status menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Berdasarkan Surat Keputusan (SK) pimpinan KPK, kini Novel harus menyerahkan tugas dan tanggungjawab kepada atasannya alias non-job.

Novel dikenal mempunyai banyak prestasi dalam segi pemberantasan korupsi. Bahkan, ia pernah mendapatkan penghargaan dari dunia internasional. Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah tersebut menerima penghargaan antikorupsi Internasional tahun 2020 dari Perdana International Anti-Corruption Champion Foundation (PIACCF).

Novel menerima langsung penghargaan tersebut di Putrajaya, Malaysia, pada 11 Februari 2020. Sayangnya, penghargaan itu berbanding terbalik dengan keputusan pimpinan KPK saat ini. Novel merasa perjuangannya dalam memberantas korupsi seperti dimusuhi oleh negeri sendiri. Padahal, penyidik senior KPK tersebut justru dihargai di Internasional.

"Apa enggak aneh, perjuangan anti korupsi seperti dimusuhi di negeri sendiri, justru dihormati di Internasional," ungkap Novel melalui akun Twitter pribadinya @nazaqistsha, Rabu (12/5/2021).

Beberapa pihak menyebut Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) adalah upaya sistematis untuk menyingkirkan pegawai KPK yang berintegritas. Indonesian Corruption Watch (ICW) meyakini penonaktifan 75 pegawai KPK dirancang untuk menghambat penanganan kasus besar.

Baca juga: Mantan Pejabat Pajak Tersangka Penerima Suap Dijebloskan ke Penjara

Jauh sebelum adanya dugaan upaya penyingkiran melalui TWK ini, Novel pernah dikriminalisasi. Novel hendak ditangkap pihak kepolisian atas dugaan penganiayaan tersangka pencurian sarang burung walet ketika masih menjabat di Polres Bengkulu. Upaya-upaya untuk menteror Novel bahkan bukan hanya sekali. Yang paling parah yakni ketika Novel disiram air keras.

Kini, Novel dan 74 pegawai yang tidak lolos TWK sedang mempersiapkan perlawanan setelah dilepastugaskan oleh pimpinan KPK. Sebab, kata Novel, Ketua KPK Firli Bahuri telah bertindak sewenang-wenang menonjobkan 75 pegawai yang dianggap berintegritas.

"Maka sikap kami jelas, kami akan melawan!," ujar Novel.

Baca juga: KPK Periksa Pejabat Setda Mimika terkait Korupsi Pembangunan Gereja di Papua

Sebelumnya, beredar Surat Keputusan (SK) terkait penonaktifan 75 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dalam rangka alih status menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Satu dari 75 pegawai yang dinonaktifkan tersebut yakni Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan.

SK penonaktifan yang beredar tersebut diterbitkan tertanggal 7 Mei 2021. SK tersebut ditandatangani oleh Ketua KPK Firli Bahuri dan salinannya telah diteken oleh Plh Kabiro SDM KPK Yonathan Demme Tangdilintin. Salah satu poin penting dalam SK tersebut yakni 75 pegawai yang tidak lolos TWK diminta untuk menyerahkan tugas dan tanggungjawab kepada atasannya.

Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri tidak membantah ihwal beredarnya SK tersebut. Kata Ali, SK tersebut merupakan hasil asesmen TWK yang akan disampaikan kepada atasan masing-masing untuk selanjutnya diberikan kepada 75 pegawai yang dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Ali berdalih, SK tersebut diterbitkan untuk memastikan efektivitas pelaksanaan tugas.

(ads)



TAGS :

Komentar