Diyakini Terima Suap, Penyidik asal Polri Stepanus Robin Dipecat dari KPK

  • 31 Mei 2021 12:49 WITA
Dewas KPK Gelar Sidang etik untuk Stepanus Robin Pattuju
Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Dewan Pengawas (Dewas) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meyakini penyidik asal Polri, Stepanus Robin Pattuju (SRP) telah menerima uang dugaan suap dari Wali Kota Tanjungbalai, M Syahrial. Atas dasar itu, Dewas memberhentikan Stepanus Robin secara tidak hormat dari KPK.

"Menghukum terperiksa (Stepanus Robin) dengan saksi berat berupa diberhentikan tidak dengan hormat sebagi pegawai KPK," kata Ketua Dewas KPK, Tumpak Hatorangan Panggabean di Gedung ACLC atau kantor lama KPK di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (31/5/2021).

Tumpak meyakini Robin terbukti menerima uang suap dari M Syahrial. Uang dugaan suap itu berkaitan dengan upaya penghentian proses penyelidikan kasus dugaan suap jual-beli jabatan di lingkungan Pemkot Tanjungbalai.

Baca juga: Hari Ini, MAKI Daftarkan Uji Materi terkait Polemik TWK Pegawai KPK ke MK

Dewas menilai Robin melanggar Pasal 4 ayat 2 huruf a, b, dan c Undang-Undang Dewas Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penindakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku. "Menyalahgunakan surat penyidik untuk kepentingan pribadi dan menyalahgunakan tanda pengenal insan komisi," tegas Tumpak.

Sementara itu, Anggota Dewas KPK, Albertina Ho membeberkan bahwa Stepanus Robin Pattuju telah menerima uang sekira Rp1,6 miliar dari M Syahrial. Ia menegaskan bahwa tidak ada perbuatan yang dapat meringankan sanksi terhadap Stepanus Robin Pattuju.

Baca juga: Rumah Sakit Milik Terdakwa Rohadi Dijadikan Tempat Isolasi Pasien Covid-19

"Terperiksa telah menikmati hasil dari perbuatannya berupa uang kurang lebih sejumlah Rp1.697.500.000," beber Albertina Ho di lokasi yang sama.

Albertina mengatakan tindakan Ajun Komisaris Polisi (AKP) Robin tidak bisa diampuni. Tindakan suap Robin dinilai sudah menyalahgunakan kepercayaan pimpinan dan instansi saat penanganan perkara. 

"Hal yang meringankan tidak ada," tegas Albertina.

Sebelumnya, KPK telah lebih dulu menetapkan penyidik lembaga antirasuah asal Polri, AKP Stepanus Robin Pattuju sebagai tersangka kasus dugaan suap. Ia ditetapkan sebagai tersangka bersama Wali Kota Tanjungbalai, M Syahrial dan seorang pengacara, Maskur Husain.

Baca juga: KPK-Kejaksaan Tangkap Buronan Kasus Korupsi Rp4,5 Miliar

AKP Stepanus Robin bersama Maskur Husain diduga menerima suap sebesar Rp1,3 miliar dari Syahrial. Suap itu bertujuan untuk menghentikan penyelidikan kasus dugaan suap terkait jual-beli jabatan di lingkungan Pemkot Tanjungbalai yang disinyalir melibatkan Syahrial.

Awalnya, M Syahrial sepakat menyiapkan dana Rp1,5 miliar untuk Robin dan Maskur Husain agar bisa menghentikan penyelidikan dugaan suap jual-beli jabatan tersebut. Kesepakatan itu terjadi di rumah dinas Wakil Ketua DPR asal Golkar Aziz Syamsuddin.

Namun, dari kesepakatan awal Rp1,5 miliar, AKP Robin dan Maskur baru menerima uang suap total Rp1,3 miliar. Uang itu ditransfer M Syahrial ke rekening bank milik seorang wanita, Riefka Amali.

Selain suap dari M Syahrial, AKP Robin diduga juga telah menerima uang atau gratifikasi dari pihak lain sejak Oktober 2020 sampai April 2021 sebesar Rp438 juta. Gratifikasi sebesar Rp438 juga itu ditampung melalui rekening Riefka Amalia.

(ads)



TAGS :

Komentar