Waspada Hoaks Vaksin Covid-19, Masyarakat Diminta Tidak Telan Informasi Mentah

  • 04 Juni 2021 18:15 WITA
Diskusi FMB9 yang digelar KPCPEN dengan tajuk 'Hindari Hoaks Seputar Vaksinasi'
Males Baca?

 

MCWNEWS.COM, JAKARTA - Pemerhati imunisasi, Julitasari Sundoro meminta agar masyarakat mewaspadai hoaks atau berita bohong terkait vaksinasi Covid-19. Oleh karenanya, ia menyarankan agar masyarakat tidak menelan informasi terkait vaksinasi Covid-19 secara mentah.

"Agar masyarakat jangan menelan mentah-mentah suatu berita dan informasi. Kita harus cek kembali kalau ragu dan tidak langsung menyebarkannya,"  ujarnya saat mengikuti diskusi bertajuk 'Hindari Hoaks seputar Vaksinasi' yang digelar secara virtual, Kamis (3/6/2021).

Julitasari mengungkapkan, penyebaran hoaks terkait vaksin Covid-19 sangat merugikan program vaksinasi yang sedang dilakukan pemerintah. Ia meminta pemerintah bisa mengatasi penyebaran hoaks tersebut.

Baca juga: Kasasi KPK Diterima, Eks Pejabat PT Duta Palma Segera Dijebloskan ke Penjara

"Karena hal ini merugikan program vaksinasi, sehingga berimbas pada rendahnya cakupan vaksinasi, tidak hanya vaksinasi Covid-19,” kata Julitasari.

Seperti halnya menjawab keraguan masyarakat terhadap kandungan vaksin Covid-19, Julitasari menerangkan, sebenarnya, kandungan vaksin Covid-19 ini adalah antigen dari virus SARS-CoV-2, yang diperlukan untuk membentuk antibodi.

"Jadi apabila mendengar ada demam atau bengkak di tempat penyuntikan, itu adalah hal yang biasa saja dalam proses pembentukan antibodi dalam tubuh manusia," katanya. 

Baca juga: Polri : Waspada Gejala Long Covid, Kenali Gejalanya

"Reaksi-reaksi ringan akibat divaksinasi itu bisa hilang dalam satu dua hari. Dalam kartu vaksinasi pun sudah diberikan nomor kontak untuk menghubungi apabila terjadi kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI),” ujarnya menambahkan. 

Salah satu vaksin Covid-19 yang digunakan untuk program vaksinasi nasional adalah AstraZeneca. Direktur AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri menyebut pemerintah telah mempertimbangkan kajian ilmiah dan medis sehingga mendatangkan AstraZeneca. 

"Tentu dasarnya adalah pertimbangan ilmiah dan medis, sehingga kita harus percaya pemerintah kita telah melakukan evaluasi mendalam sehingga vaksin-aksin yang telah ditetapkan layak untuk membentuk herd immunity bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya. 

Baca juga: KPK Selidiki Dugaan Korupsi di Aceh

Rizman juga menambahkan ketika vaksin akan dipergunakan oleh suatu negara, harus mendapatkan izin oleh otoritas negara tersebut. Khusus untuk Indonesia vaksin harus mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM).

“Semua vaksin tidak hanya AstraZeneca harus melalui persetujuan Badan POM. Kemudian ada juga persyaratan WHO, yakni vaksin yang dikatakan efektif memiliki efikasi lebih dari 50 persen,” ujar Rizman.



TAGS :

Komentar