Sidang Suap Juliari Ungkap Fee Bansos Corona untuk Anggota BPK Hingga Pejabat Kemensos

  • 07 Juni 2021 23:20 WITA

Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kembali menggelar sidang lanjutan perkara dugaan suap terkait pengadaan Bantuan Sosial (Bansos) Covid-19 dengan terdakwa mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara. Sidang masih beragendakan pemeriksaan saksi.

Salah satu saksi yang dihadirkan oleh tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini yaitu, mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kemensos, Matheus Joko Santoso. Ia juga merupakan terdakwa dalam perkara ini.

Pada persidangan kali ini, Matheus mengungkap aliran fee dari para vendor penggarap proyek bansos Covid-19 untuk sejumlah pihak. Beberapa diantara yang turut kecipratan uang panas proyek bansos Covid-19 ini yaitu, Anggota BPK Achsanul Qosasi; Sekjen Kemensos Hartono Laras; hingga Dirjen Linjamsos Kemensos, Pepen Nazaruddin.

Baca juga: KPK Setor Uang Rp12,5 Miliar Milik Imam Nahrawi ke Kas Negara

Awalnya, Matheus Joko Santoso mengakui pernah memberikan uang senilai Rp1 miliar dalam bentuk dolar Amerika Serikat kepada Achsanul Qosasih. Uang itu diserahkan oleh Matheus Joko melalui utusan Achsanul Qosasi, bernama Yonda. 

"Saya berikan kepada orangnya beliau namanya Yonda pada bulan Juli, senilai Rp1 miliar, dollar Amerika," kata Matheus Joko di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (7/6/2021).

Mendengar pernyataan Matheus, lantas Majelis Hakim mendalami sosok Achsanul tersebut. Matheus Joko Santoso ditelisik siapa sosok Achsanul Qosasih yang menerima uang Rp 1 miliar dari pengadaan bansos Covid-19 untuk wilayah Jabodetabek.

"Setahu saya dari BPK, yang mulia," ungkap Matheus.

"Uang apa yang saudara berikan ke Achsanul?," cecar Hakim.

"Saya ambil dari uang pengumpulan biaya operasional," papar Matehus Joko.

Baca juga: Kasasi KPK Diterima, Eks Pejabat PT Duta Palma Segera Dijebloskan ke Penjara

Dia menyampaikan, penyerahan uang kepada Achsanul melalui stafnya tersebut merupakan permintaan dari mantan kuasa pengguna anggaran (KPA) Adi Wahyono. "Saya diminta Pak Adi untuk menyerahkan. Saya serahkan langsung ke Yonda," ujar Matheus Joko.

Selain kepada Anggota BPK Achsanul Qosasih, sambung Matheus Joko, penyerahan uang lainnya juga dilakukan kepada sejumlah pejabat di Kemensos. Matheus Joko mengaku telah menyerahkan fee bansos kepada Dirjen Linjamsos Pepen Nazaruddin dan Sekjen Kemensos Hartono Laras.

"Ada Yang Mulia (yang diserahkan ke Pepen). Pada bulan Juli Yang Mulia, bentuknya dolar Singapura senilai Rp 1 miliar," ucap Matheus Joko.

Selain Pepen, Sekjen Kemensos Hartono Laras dan Plt Direktur PSKBS Kemensos Adi Wahyono juga menerima uang fee pengadaan bansos. "Ada Yang Mulia (untuk Adi Wahyono) bulan Juli juga. Bentuknya dolar Singapura senilai Rp1 miliar," tegas Matheus Joko.

"Ada lagi yang mulia, ke Hartono Laras. Hartono Laras, Sekretaris Jenderal," imbuhnya.

"Semua menyangkal ketika di persidangan, tidak pernah menerima dari saudara. (Uangnya diserahkan) melalui Adi Wahyono?," tanya Hakim Damis kepada Matheus Joko. 

"Betul yang mulia, dari bulan Juli dan Agustus, Rp50 juta. Dari bulan Juli ke Agustus. Saya serahkan secara bertahap Rp50 juta empat kali," ucap Matheus Joko.

Matheus Joko lantas membongkar nama pejabat Kemensos lainnya yang juga turut menerima fee terkait pengadaan bansos Covid-19. Mereka yakni, Kepala Biro Kepegawaian (Karopeg) Kemensos, Amin Raharjo sebesar Rp 150 juta, dalam dua kali tahapan melalui Adi Wahyono. 

Penerimaan lainnya juga kepada Kasubagpeg Sesdirjen Linjamsos Kemensos sekaligus anggota tim teknis bansos sembako, Rizki Maulana; Staf Subbag Tata Laksana Keuangan Bagian Keuangan Sesdirjen Linjamsos, Robin Saputra; Iskandar; Firmansyah dan Yoki.

"Kemudian untuk Fahri Isnanta Rp250 juta, dia adalah LO Kemensos tim audit BPK," pungkas Matheus Joko.

(ads)



TAGS :

Komentar