KPK Panggil Sekda Bandung Barat terkait Korupsi Bansos Corona

  • 08 Juli 2021 11:18 WITA
Plt Juru Bicara KPK, Ipi Maryati Kuding
Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan terhadap Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bandung Barat, Asep Sodikin, pada hari ini. Asep bakal diperiksa atas kasus dugaan korupsi pengadaan barang tanggap darurat bencana pandemi Covid-19 pada Dinsos Pemkab Kabupaten Bandung Barat tahun 2020.

Selain Asep Sodikin, penyidik juga memanggil delapan saksi lainnya yakni, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Agung Ash- Shiddiq Kabupaten Bandung Barat, KH Agus Saefur Romdoni S.Ag; tiga orang PNS, A Fauzan Azzima; Chandra Kusuma; dan Aan Sopian Gentiana.

Kemudian, Staf Honorer Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, Aji Rusmana; Ketua Badan Amil Zakat Kabupaten Bandung Barat, Hilman Farid; mantan Kabid Bina Marga, Moch Ridwan Evi; serta seorang pihak swasta, Rini Rahmawati. Mereka bakal diperiksa penyidik KPK di Kantor Pemkab Bandung Barat.

"Kamis (8/7/2021) bertempat di Kantor Pemkab Bandung Barat, tim penyidik mengagendakan pemanggilan saksi-saksi untuk tersangka AUM dkk," kata Plt Juru Bicara KPK, Ipi Maryati Kuding melalui pesan singkatnya, Kamis (8/7/2021).

Sebelumnya, KPK resmi menetapkan Bupati non-aktif Bandung Barat, Aa Umbara Sutisna (AUM) dan anaknya, Andri Wibawa (AW) selaku pihak swasta sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait pengadaan paket bahan pangan (sembako) untuk penanggulangan pandemi Covid-19.

Tak hanya anak dan ayah tersebut, KPK juga menetapkan pemilik PT Jagat Dir Gantara (PT JDG) dan CV Sentral Sayuran Garden City Lembang (SSGCL) M Totoh Gunawan (MTG) sebagai tersangka dalam kasus ini. Para tersangka tersebut diduga total menerima keuntungan Rp5,7 miliar dari korupsi tersebut.

Dalam perkara ini, Aa Umbara Sutisna diduga menerima uang sebesar Rp1 miliar terkait pengadaan paket bahan pangan sembako untuk penanggulangan Covid-19 di Bandung Barat. Sedangkan Andri Wibawa, diduga menerima keuntungan sebesar Rp2,7 miliar. Sementara M Totoh Gunawan diduga menerima Rp2 miliar.

 

(ads)



TAGS :

Komentar