KPK Pertajam Bukti Keterlibatan Azis Syamsuddin di Kasus Suap Walkot Tanjungbalai

  • 13 Juli 2021 12:59 WITA
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri
Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri memastikan pihaknya masih mengumpulkan bukti-bukti keterlibatan Wakil Ketua DPR RI, Azis Syamsuddin, dalam kasus dugaan suap yang menjerat Wali Kota non-aktif Tanjungbalai, M Syahrial. Firli menegaskan KPK tidak pandang bulu dalam menjerat siapapun di kasus ini asalkan ditemukan bukti permulaan yang cukup.

"Penyidik KPK masih terus bekerja keras untuk mencari, mengumpulkan keterangan saksi dan bukti-bukti. Dan dengan bukti-bukti tersebut, akan membuat terangnya suatu peristiwa pidana dan menemukan tersangkanya. Jadi siapapun pelakunya yang terlibat dengan bukti yang cukup, kami tidak akan pandang bulu karena itu prinsip kerja KPK," tegas Firli Bahuri saat dikonfirmasi, Selasa (13/7/2021).

Firli mengaku sangat memahami keinginan dan harapan masyarakat agar perkara dugaan suap yang menjerat M Syahrial bisa dituntaskan. Namun, kerja penegakan hukum KPK harus diwujudkan dengan rasa keadilan dan kemanfaatan bagi masyarakat banyak.

"KPK akan dalami semua informasi untuk ungkap perkara tersebut dan siapa saja yang melakukan. Jadi siapapun pelakunya yang diduga mengetahui ataupun diduga terlibat dengan bukti yang cukup, KPK tidak akan pandang bulu," katanya.

Dijelaskan Firli, untuk menjerat pelaku atau tersangka lain dalam sebuah perkara, KPK harus memiliki dasar bukti yang cukup. Oleh karenanya, hingga kini KPK masih mempertajam serta mengumpulkan kembali bukti-bukti keterlibatan Azis Syamsuddin di kasus M Syahrial.

"Hal ini perlu karena KPK menjunjung tinggi asas-asas tugas pokok KPK yaitu kepentingan umum, kepastian hukum, keadilan, transparan, akuntabel, proporsional, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia," beber Firli.

"Tidak boleh menetapkan tersangka tanpa bukti yang cukup, dan setiap tersangka memiliki hak untuk mendapat pemeriksaan dengan cepat dan segera diajukan ke peradilan the sun rise and the sun set principle harus ditegakkan," pungkasnya.

Sekadar informasi, nama Azis Syamsuddin terseret dalam skandal dugaan suap terkait penghentian penyelidikan perkara korupsi di Pemkot Tanjungbalai. Dugaan keterlibatan Azis Syamsuddin terungkap dalam proses penyidikan hingga surat dakwaan M Syahrial.

Azis Syamsuddin disebut sebagai fasilitator atau pihak yang mempertemukan Wali Kota Tanjungbalai, M Syahrial dengan mantan penyidik KPK asal Polri, AKP Stepanus Robin Pattuju. Dari pertemuan itu, AKP Stepanus Robin bersama rekannya, seorang pengacara, Maskur Husain bersepakat jahat dengan Syahrial.

Adapun, kesepakatan jahat antara ketiganya itu berkaitan dengan rencana penghentian penyelidikan perkara dugaan suap jual-beli jabatan di lingkungan Pemkot Tanjungbalai. Diduga, M Syahrial terjerat dalam kasus tersebut.

M Syahrial sepakat menyiapkan dana Rp1,5 miliar untuk Stepanus Robin dan Maskur Husain agar bisa menghentikan penyelidikan dugaan suap jual-beli jabatan tersebut. Kesepakatan jahat itu terjadi di rumah dinas Azis Syamsuddin.

Namun, dari kesepakatan awal Rp1,5 miliar, Stepanus Robin Pattuju baru menerima uang suap total Rp1,3 miliar. Uang itu diberikan M Syahrial kepada Stepanus Robin melalui transfer ke rekening bank milik Riefka Amalia.

Atas kejadian itu, KPK baru menetapkan tiga tersangka kasus dugaan suap terkait upaya penghentian penyelidikan perkara korupsi di Pemkot Tanjungbalai. Ketiganya yakni, M Syahrial; AKP Stepanus Robin Pattuju, dan Maskur Husain. Sedangkan Azis Syamsuddin telah dicegah untuk bepergian ke luar negeri.

 

(ads)



TAGS :

Komentar