Utang Rp2M Bengkak jadi Rp9M, Pengusaha Gugat Pegawai BUMN

  • 31 Juli 2021 04:23 WITA
KET foto : Kuasa hukum penggugat, Redy Nobel dkk saat menunjukkan gugatan yang didaftarkan di PN Denpasar, Jumat (30/7/2021)
Males Baca?


MCWNEWE.COM, DENPASAR - Seorang pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan dua orang notaris digugat ke pengadilan karena dihadiahi melakukan perbuatan uang merugikan dua bersaudara yaitu I Nyoman Sutara dan I Made Wirawan.

Keduanya melakukan gugatan karena tidak terima utangnya yang semula Rp2 miliar menjadi Rp9 miliar. 

Kedua nya melayangkan gugatan terhadap Anna Lukman (pegawai BUMN) notaris Surjadi dan notaris Ni Wayan Trinadi di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar pada Jumat (30/7/2021). 
 

Kedua penggugat yang merupakan pengusaha ini berharap bisa melunasi utang sesuai kesepakatan Rp2 miliar dan sertifikat tanah seluas 500m2 yang berlokasi di Seminyak, Kuta, Badung yang disita sebagai jaminan segera dikembalikan oleh para tergugat.

Penasihat hukum penggugat, Redy Nobel menjelaskan gugatan ini berawal saat kliennya meminjam uang Rp2 miliar untuk usaha kepada Anna Lukman. Sebagai jaminan, penggugat menjaminkan tanah seluas 500m2 di Seminyak.

Lalu pada 6 Januari 2021 Anna mencairkan dana pinjaman Rp1.480.000.000 kepada penggugat dengan tempo pembayaran 3 bulan.

“Pinjaman Rp2 miliar langsung dipotong biaya adiministrasi dan lainnya 25 persen. Sehingga klien kami hanya mendapat Rp1.480.000.000,” jelas Redy.

Penggugat juga menandatangi akta pengakuan utang nomor 06 di depan notaris Ni Wayan Trinadi. Selain itu, ada beberapa akta lainnya yang ikut ditandatangani.

Nah, pada 8 Mei 2020, penggugat baru mengetahui ternyata dari beberapa akta yang ditandatangani diantaranya akta kepsekatan bersama nomor 07, akta pengikatan jual beli nomor 08, akta kuasa untuk menjual tanah nomor 09 dan akta pengosongan lahan nomor 10.

“Jadi penggugat ini tidak tahu kalau dia tandatangan akta-akta lainnya ini. Padahal yang diketahui dia hanya menandatangani akta pengakuan utang saja dan hanya itu yang dibacakan notaris,” jelas Redy.

Setelah jatuh tempo pada April 2021, penggugat yang belum bisa membayar utang karena kondisi pandemi Covid-19 meminta waktu kepada tergugat. Namun tidak ada jawab dari tergugat.

Malah penggugat ditekan oleh tergugat untuk mendatangani surat pernyataan utang Rp9 miliar.

“Klien saya mendapat tekanan dari tergugat. Bahkan ada beberapa tindakan berupa kekerasan yang dilakukan kepada klien kami,” beber Redy.

Tak tahan dengan tekanan, penggugat mencari pinjaman untuk melunasi utang Rp2 miliar ini. Namun setelah mendapat uang Rp2 miliar, tergugat tidak mau menerima dan tetap minta dibayar Rp9 miliar. 

Dengan ancaman jika tidak bisa membayar selama 1 bulan maka tanah yang dijaminkan akan dijual untuk menutupi utang.

“Jadi sangat jelas tergugat ini tidak memiliki itikad baik dan memanfaatkan kondisi penggugat yang kesulitan ekonomi untuk meraup keuntungan besar,” tegas pengacara yang hobi menembak ini.

Redy mengatakan dalam gugatan yang sudah didaftarkan di PN Denpasar diantaranya memohon kepada majelis hakim untuk menyatakan bahwa penggugat benar memiliki utang Rp2 miliar sesuai akta pengakuan utang nomor 06.

Memerintahkan para penggugat untuk menitipkan uang Rp2 miliar untuk pembayaran utang kepada tergugat dengan cara konsinyasi melalui kepaniteraan PN Denpasar.

“Kami juga memohon kepada majelis hakim untuk memerintahkan tergugat mengembalikan sertifikat yang dijaminkan,” pungkas Redy.

Sementara itu, tergugat Anna Lukman yang dimintai konfirmasinya belum memberikan jawaban.

 

(eli)



TAGS :

Komentar