Terjaring OTT KPK, Bupati Kolaka Timur Jadi Tersangka Suap Dana Hibah BNPB

  • 22 September 2021 22:55 WITA
KPK Gelar Konpers Penetapan Tersangka Bupati Kolaka Timur

Males Baca?

 

MCWNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Kolaka Timur, Andi Merya Nur (AMN) sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek yang berasal dari dana hibah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ia ditetapkan sebagai tersangka setelah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Selasa, (21/9/2021), kemarin.

Selain Andi Merya, KPK juga menjerat tersangka lainnya yakni, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kolaka Timur, Anzarullah (AZR). Andi Merya ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Sedangkan Anzarullah, ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka setelah ditemukan bukti permulaan cukup.

"Maka KPK meningkatkan status perkara ini ke tahap penyidikan dengan mengumumkan tersangka tersebut," kata Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron saat menggelar konpers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Rabu (22/9/2021), malam.

Kasus ini bermula ketika Andi Merya dan Anzarullah mengajukan dana hibah kepada BNPB berupa dana Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) dan Dana Siap Pakai (DSP) pada periode Maret hingga Agustus 2021. Pada awal September 2021, Andi Merya dan Anzarullah menyampaikan paparan terkait pengajuan dana hibah logistik dan peralatan di Kantor BNPB, Jakarta.

"Pemkab Kolaka Timur memperoleh dana hibah BNPB yaitu hibah relokasi dan rekonstruksi senilai Rp26,9 Miliar dan hibah dana siap pakai senilai Rp 12,1 miliar," imbuh Ghufron.

{bbseparator}

Dari pemaparan itu, Anzarullah meminta kepada Andi Merya agar sejumlah proyek pekerjaan fisik yang bersumber dari dana hibah BNPB nantinya dikerjakan oleh orang-orang kepercayaannya dan pihak lain yang membantu mengurus agar dana hibah tersebut cair ke Pemkab Kolaka Timur. 

Tak hanya itu, Anzarullah juga meminta agar paket belanja jasa konsultansi perencanaan jembatan dua di Kecamatan Ueesi senilai Rp714 juta dan belanja jasa konsultansi perencaaan pembangunan 100 unit rumah di Kecamatan Uluiwoi senilai Rp175 juta, dikerjakan oleh dirinya.

"AMN menyetujui permintaan AZR tersebut dan sepakat akan memberikan fee kepada AMN sebesar 30%," sambungnya.

Selanjutnya, Andi Merya memerintahkan Anzarullah untuk berkoordinasi langsung dengan Dewa Made Ramawan selaku Kabag ULP agar memproses pekerjaan perencanaan lelang konsultan dan mengunggahnya ke LPSE. Sehingga, perusahaan milik Anzarullah atau grupnya dimenangkan serta ditunjuk menjadi konsultan perencana pekerjaan dua proyek tersebut.

Sebagai realisasi kesepakatan, Andi Merya diduga meminta uang sebesar Rp250 juta atas dua proyek pekerjaan yang akan didapatkan Anzarulalh tersebut.

"AZR kemudian menyerahkan uang sebesar Rp25 Juta lebih dahulu kepada AMN dan sisanya sebesar Rp225 juta sepakat akan diserahkan di rumah pribadi AMN di Kendari," bebernya. (ads)



TAGS :

Komentar