Nisa Bea, Pulau Kecil Tak Berpenghuni di Bima dengan Sejuta Pesona

  • 08 November 2021 11:29 WITA

Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Hijrah, salah satu Traveler asal Jakarta membagikan kisahnya saat mengunjungi Nusa Tenggara Barat (NTB), beberapa waktu lalu. Hijrah memang bukan kali pertama menjajaki pulau dengan julukan seribu masjid tersebut. Pemuda yang kerap memandu wisatawan ini sudah beberapa kali mengantarkan tamu-tamunya ke NTB.

Berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya, Hijrah kini menyambangi NTB dengan istri yang baru dipersuntingnya. Menurut Hijrah, keindahan NTB memang tidak ada habisnya. Bahkan, masih banyak tempat  yang belum tersentuh dan sangat berpotensi untuk dijadikan wisata. Salah satunya, Nisa Bea. 

Nisa Bea merupakan salah satu pulau yang terletak di Desa Karumbu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, NTB. Pulau kecil nan mempesona tersebut tak berpenghuni. Nisa Bea baru pertama kali dijajaki oleh Hijrah. Hijrah bercerita, awal pertama kali mengenal Pulau Nisa Bea dari Iskandar atau yang karib disapa Pak Ginandar.

"Tuhan selalu bersama orang-orang nekat, sebuah kata yang aku Aminkan ketika mengenal jauh sosok Pak Iskandar dari desa Karumbu, kecamatan Langkudu, kabupaten Bima," Tutur Hijrah saat bercerita, Senin (8/11/2021).

Hijrah mulanya hanya modal nekat berbulan madu di NTB. Hingga tak disangka, Hijrah dibawa ke Pulau Nisa Bea berkat kenalannya dengan para pemandu wisata lokal. Hijrah dan istri awalnya diajak oleh pemandu wisata lokal, Akhyar ke Desa Karumbu. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Pak Ginandar di Dermaga Nusantara, Desa Karumbu.

"Perjalanan saya tempuh kurang lebih 40 menit dari Bandara Muhammad Salahudin, di dermaga saya disambut oleh pak Iskandar atau sering disebut Pak Ginandar, pertukaran senyum terjadi di bibir dermaga Nusantara, dermaga yang akan menghantar saya menuju Pulau Nisa bea sebuah pulau yang berada di Teluk Waworada," beber Hijrah.

Hijrah mengaku masih ingat betul tawaran pertama untuk menjajaki Pulau Nisa Bea terlontar dari bibir Akhyar. Kata Hijrah, Akhyar sangat bersemangat mempromosikan Pulau Nisa Bea. Hijrah pun tertarik dengan berbagai cerita yang ditawarkan Akhyar.

"Jadilah saya beserta istri memilih Pulau Nisa bea yang mempunyai luas 13 hektar ini menjadi destinasi honeymoon berikutnya," ucapnya.

Menurut Hijrah, tidak butuh waktu lama untuk bisa sampai ke Pulau Nisa bea. Hanya butuh waktu 15 menit perjalanan menggunakan kapal dari Dermaga Nusantara, Hijrah sudah bisa menginjak bentangan pasir halus Nisa bea.

"Saya dan istri dibuat kagum oleh jernih air laut dan gradasi hijau tosca Nisa Bea, terumbu karang pun sudah bisa kita lihat saat kapal memelankan lajunya untuk bersandar di dermaga Nisa Bea," ungkapnya.

Bukan hanya kagum akan panorama indah di Nisa Bea, Hijrah mengaku juga terenyuh dengan perjuangan Pak Ginandar. Pak Ginandar berkeinginan besar memajukan Pulau Nisa Bea menjadi destinasi wisata. Kata Hijrah, Pak Ginandar tak ingin warga lokal hanya bergantung menjadi nelayan.

"Pak Iskandar ingin sekali melihat warga desa tidak lagi hanya menggantungkan nasib hanya sebagai nelayan," jelasnya.

Kepada Hijrah, Iskandar menceritakan perjuangannya merawat Nisa Bea agar bisa menjadi daya tarik wisatawan. Bahkan, Iskandar tak ragu untuk mengocek kantong pribadinya untuk belajar transplatasi karang atau hanya sekadar mengundang teman-teman dari berbagai komunitas, memperkenalkan kemolekan Nisa bea.

Tak ayal, pada 2014 Nisa Bea yang hanya dikenal hanya oleh penduduk setempat telah menjadi destinasi baru yang dikenal oleh teman-teman traveler. Hal itu, kata Hijrah, memang tak lepas dari campur tangan Iskandar.

"Pak Iskandar mengenang bagaimana dia bersusah payah memberi pengertian terhadap keluarga dan penduduk setempat mengenai harapan wisata di Nisa Bea. Bahkan, Pak Iskandar sampai dilabeli orang gila yang tidak punya pekerjaan," beber Hijrah.

"Sebab, yang Pak Iskandar tahu hanya bersih-bersih areal Nisa Bea agar pengunjung bisa duduk-duduk setelah puas bermain air dan menikmati matahari tenggelam di ujung pulau Nisa Bea," sambungnya.

Perjuangan Iskandar tak sia-sia. Kini Nisa Bea sudah lumayan dikenal sebagai destinasi wisata baru di NTB. Bahkan, Nisa Bea kini telah memiliki camping ground. "Belum lagi ikan nemo lucu yang siap menyambut teman traveler di megahnya kedalaman Nisa Bea," imbuh Hijrah.

Keindahan panorama Nisa Bea sangat menawan. Hamparan pasir yang luas serta jernihnya air laut memanjakan mata setiap waktunya. Kehidupan flora dan fauna di Nisa Bea pun menjadi beragam. Kalau beruntung, pengunjung akan disuguhkan oleh penampakan burung maleo.

Tak hanya itu, Nisa Bea bahkan kini sudah bisa memberikan penghasilan lebih untuk warga Desa Karumbu. Mulai dari penitipan parkir yang di patok hanya Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp10.000 untuk mobil, sampai kapal nelayan yang hilir-mudik untuk mengantar wisatawan menikmati keindahan Nisa bea.

"Terima kasih Pak Iskandar telah menjadi orang nekat. Semua dedikasi jelas nyata telah saya nikmati beserta istri, semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan lagi sektor wisata agar Bima bisa menjadi 'Bali Baru' seperti mimpi besar Pak Iskandar," ungkap Hijrah.

"Agar Bima bukan lagi hanya menjadi tempat singgah menuju Labuhan Bajo atau menuju Lombok, tapi Bima menjadi kota wisata yang ramah bagi semua teman traveler yang menawarkan cerita dan pengalaman baru," tutupnya.



TAGS :

Komentar