Peringatan KPK untuk Para Kepala Daerah soal Tata Kelola Pemerintahan di Papua

  • 23 November 2021 17:55 WITA

Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAYAPURA  - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata memberikan warning alias peringatan kepada para kepala daerah di Papua. Peringatan itu berkaitan dengan tata kelola pemerintahan di Papua. Alex, sapaan karib Alexander Marwata meminta para kepala daerah untuk memperkuat tata kelola pemerintahan yang baik di daerahnya masing-masing.

"Terkait program pencegahan korupsi, KPK mendorong implementasi delapan fokus area yang kami petakan berdasarkan risiko korupsi dari pengalaman penanganan perkara korupsi oleh KPK maupun apgakum lain,” kata Alex dalam rapat Koordinasi Supervisi Pencegahan Korupsi Terintegrasi di Wilayah Papua, Selasa (23/11/2021).

Untuk memperkuat tata kelola pemerintahan di Papua, Alex memaparkan delapan area rawan korupsi. Delapan area rawan korupsi tersebut meliputi Perencanaan dan Penganggaran APBD; Pengadaan Barang dan Jasa; Perizinan; Pengawasan APIP; Manajemen ASN; Optimalisasi Pajak Daerah; Manajemen Aset Daerah, dan Tata Kelola Keuangan Desa. 

Berdasarkan catatan KPK, kata Alex, skor rata-rata upaya pencegahan korupsi di wilayah Papua yang meliputi delapan area tersebut masih rendah. Pada 2018 hingga 2020, tercatat skor rata-rata wilayah Papua 25 persen, 34 persen, dan 25 persen. Sedangkan 2021 ini, masih di angka 9 persen dibandingkan skor rata-rata nasional 46 persen.

"Dari capaian MCP, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemda di Papua," tegasnya.

{bbseparator}

Alex juga mengingatkan, kunci keberhasilan pencegahan korupsi tidak lain adalah komitmen kuat pimpinan daerah, yaitu kepala daerah bersama-sama pimpinan DPRD. 

Selain itu, Alex juga meminta setiap insan pada jajaran birokrasi, baik di bidang eksekutif maupun legislatif untuk menjaga integritas dan terus memperkuat tata kelola yang terintegrasi. Secara khusus, Alex meminta agar kepala daerah melakukan pemberdayaan terhadap aparatur pengawasan intern pemerintah (APIP). Harapannya, agar inspektorat dapat melakukan pengawasan yang memadai.

"Mereka menjadi pengawal Bapak-Bapak dalam menjalankan pemerintahan selama 5 tahun. Karenanya harus diperkuat terkait kapasitasnya dengan memberikan pelatihan, jumlah auditornya, maupun kecukupan anggarannya," pintanya.

Selain soal pengawasan oleh inspektorat, Alex juga mengingatkan tentang pentingnya kehadiran negara dalam mengatasi persoalan aset khususnya tanah di Papua. Menurutnya, sangat rawan jika aset tidak memiliki alas hukum yang sah.

Oleh karenanya, kata Alex, pihaknya terus mendorong percepatan sertifikasi aset sebagai bentuk pengamanan demi mencegah terjadinya kerugian keuangan negara atau daerah karena aset yang beralih dan dikuasai pihak ketiga yang tidak berhak.

"Ini semua untuk kepastian hukum sebagai syarat investasi. Bapak-Bapak punya kepentingan untuk mendorong investasi sebagai jalan untuk pembangunan di daerah yang dapat membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan,” pungkasnya. (ads)



TAGS :

Komentar