Hujan Jadi Kendala Nelayan di Bintuni

  • 10 Januari 2022 18:35 WITA
Suryanto (Petani padi) menunjukkan hasil panennya padi sebanyak 1 ton yang belum terjual, Senin (10/1/2022)

Males Baca?


MCWNEWS.COM, BINTUNI - Curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa bulan terakhir menjadi kendala bagi sebagian nelayan dan petani di Bintuni ketika melaksanakan aktifitas.

Dari keterangan Nuryanto (37) warga jalur 7 Kampung Banjar Ausoy SP 4 yang berprofesi sebagai buruh tani dan nelayan mengatakan, bila cuaca normal selama 4 empat hari melaut untuk mencari ikan dan kepiting maka ia memerlukan modal minimal Rp1,5 juta.

"Modal segitu sudah termasuk kebutuhan seperti Bama dan bahan bakar minyak untuk melaut," kata saat ditemui di kediamannya, Senin (10/1/2022).

Menurutnya, pendapatan dari hasil melaut tidak menentu terkadang dapat banyak namun adakalanya dapat sedikit, tergantung dari perolehan rejeki.

"Paling banyak hasil melaut sebagai nelayan kepiting saya pernah mendapat 100 kg," ujarnya.

Dari hasil tangkapan tersebut, Suryanto menjualnya kepada salah seorang penampung kepiting dengan harga Rp10 ribu hingga Rp50 ribu perkilo. 

Untuk kepiting kategori BS (kurang bagus) ia jual dengan harga Rp10 ribu per kilo, sedangkan untuk kepiting yang kategori jumbo (bagus) dijualnya seharga Rp50 ribu per kilo.

Lanjut Suryanto, karena saat ini intensitas cuaca kurang mendukung ia memilih istirahat melaut. Jika demikian ia beralih dengan menanam padi di lahan irigasi yang bukan miliknya. 

"Dengan sistem bagi hasil bersama sang pemilik lahan bila sudah waktu tiba masa panen," jelasnya.


Halaman :

TAGS :

Komentar