Dicecar Hakim, Oknum Sipir Penganiaya Santri Berbelit

  • 11 Januari 2022 17:15 WITA

Males Baca?

 

MCWNEWS.COM, MADINA - Sidang kasus penganiayaan oleh oknum sipir Rumah Tahanan (Rutan) Natal bernama Derman Gultom terhadap seorang santri digelar di Pengadilan Negeri Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), Selasa (11/5/2022).

Dalam sidang kedua ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan dua orang saksi yakni Rusdin (55), warga Desa Panggautan Natal dan Ingot Sinaga (57), warga Desa Sasaran Natal Madina, Sumut.

Saksi yang sebelumnya disumpah mengatakan jika sempat melihat terdakwa menendang kepala korban yang hendak bangun dari tanah ketika masih di lokasi kecelakaan.

"Korban masih tersungkur dalam kecelakaan itu, setelah saya bàntu naik ke becak untuk membawanya ke rumah sakit, terdakwa sempat menendang kepala anak itu sekali di atas becak saya," tutur saksi Rusdin kepada hakim.

Sementara saksi Ingot Sinaga mengatakan, ketika di lokasi kecelakaan dirinya meminta terdakwa untuk tidak marah-marah dan memukuli korban. Bahkan dirinya mengaku mendapat perlakuan yang tidak mengenakan dari terdakwa.

"Iya saya lihat kejadian itu, ketika saya coba menolong anak itu, dan mencoba menghentikan, terdakwa malah menggertak saya dengan mengatakan apa "di sini urusan mu"? Saya jawab tidak ada orang menginginkan kecelakaan. Lalu saya terdiam dan membiarkan kejadian itu karena saya lihat si bapak itu sudah emosi," ucapnya.

Atas keterangan saksi, hakim lalu bertanya kepada terdakwa dan meminta terdakwa memberikan menerima atau membantah daripada kesaksian dua orang saksi.

"Saya terima itu kesaksian, namun sebagian besar saya tidak terima dan saya bantah terutama mengenai saya menendang kepala korban, dan saya hanya membawa dia ke dalam mobil untuk mengajak anak itu berargumen dan menanyai rumahnya yang mulia," kata terdakwa kepada hakim melalui virtual.

Mendengar itu, hakim meminta terdakwa agar lebih jujur karena menurut hakim, mulai dari sidang pertama terdakwa sudah melancarkan aksi retorikanya, bahkan terdakwa sempat tersenyum-senyum sehingga hakim menegurnya.

"Terdakwa jangan senyum, tertawa, nampaknya saudara terdakwa mulai berliku-liku dalam beretorika. Ketika saya tanya tadi pascakecelakaan saudara bilang luka memar di muka anak itu sangat sedikit, tapi kenapa setelah keluar dari mobil, korban lebam-sebam dan pecah di dekat mata kanan korban, coba jujur," kata majelis hakim.


Halaman :

TAGS :

Komentar