Pemkab Bintuni Diminta Perhatikan Nasib Pedagang Tradisional Kampung Atibo

  • 12 Januari 2022 19:05 WITA

Males Baca?

 

MCWNEWS.COM, BINTUNI - Pasar tradisional kampung Atibo di Distrik Manimeri, Teluk Bintuni yang saat ini ada awalnya berupa pondok di pinggir Jalan Raya Bintuni. Hal itu diceritakan oleh salah satu pedagang bernama Septina Tiri.

"Dulu tempat ini sepi, tapi dibangun pasar di sini jadi kita tidak jualan di Pasar Bintuni lagi, pondok ini dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni tahun 2019," kata Septina, Rabu (12/1/2022).

Di pasar tersebut, pedagang menjual hasil kebun yang ditanam oleh masyarakat kampung Atibo seperti singkong, kacang tanah, labu, keladi dan juga buah-buahan musiman seperti rambutan, durian dan juga buah merah. 

"Kami jual hasil kebun saja, kalau sayur-sayuran kami tidak pernah jual karena tidak laku kita jual disini," terang perempuan yang juga istri pejabat Sekretaris Kampung Atibo ini.

Septina Tiri juga mengeluhkan ketidakadaan perhatian dari pemerintah untuk mereka selain dibangunnya pondok pasar. 

Menurutnya, Dinas Perindagkop hanya membangun dua pondok setelah itu mereka harus membayar Rp1 juta per bulan kepada pemilik lahan. Hal ini kadang yang menjadi kendala.

"Jadi kami ada sekitar 20 orang pedagang di sini patungan untuk bayar Mama Ana Rp1 juta," terangnya. 

Disinggung soal keuntungan, Septina mengatakan, sehari ia memperoleh Rp250 ribu sampai Rp300 ribu dari hasil jualan buah-buahan. Sedangkan pedagang yang lain bisa mendapat uang di atas Rp500 ribu sampai Rp1 juta jika ramai.

"Kami berharap kepada pemerintah agar dapat memperhatikan kami, walaupun tidak mendapatkan bantuan, kalau bisa pasar ini ditambah lagi atau diatur baik karena warga masyarakat di sini banyak yang berminat jadi pedagang," ujarnya. (hs)



TAGS :

Komentar