MAKI Bongkar Dugaan Pungli Rp1,7 Miliar di Bandara Soekarno-Hatta

  • 22 Januari 2022 20:40 WITA
Koordinator MAKI, Boyamin Saiman

Males Baca?

 

MCWNEWS.COM, JAKARTA - Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) membongkar adanya dugaan pungutan liar (pungli) mencapai Rp1,7 miliar yang terjadi di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). MAKI telah melaporkan dugaan pungli tersebut ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten.

Koordinator MAKI, Boyamin Saiman menjelaskan, pihaknya telah mengirimkan surat melalui sarana elektronik dan akun WhatsApp (WA) hotline Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejaksaan Tinggi Banten terkait dugaan pungli tersebut pada, 8 Januari 2021. Pungli itu, kata Boyamin, diduga dilakukan oleh oknum bea dan cukai.

"Adanya dugaan pemerasan/pungli yang dilakukan oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) di Bea dan Cukai berdinas di Bandara Soekarno Hatta Tangerang," kata Boyamin melalui keterangan resminya, Sabtu (22/1/2022).

Boyamin membeberkan, peristiwa dugaan pungli atau pemerasan tersebut terjadi selama setahun atau tepatnya sejak April 2020 hingga April 2021. Kata dia, dugaan pemerasan atau pungli tersebut dilakukan dengan modus melakukan penekanan kepada sebuah perusahaan jasa kurir (PT. SQKSS).

"Dugaan penekanan untuk tujuan pemerasan/pungli tersebut berupa ancaman tertulis maupun verbal/lisan, tertulis berupa surat peringatan tanpa alasan yang jelas dan verbal berupa ancaman penutupan usaha perusahaan tersebut," beber Boyamin.

"Semua dilakukan oknum tersebut  dengan harapan permintaan oknum pegawai dipenuhi oleh perusahaan," imbuhnya.

Dari informasi yang dikantongi Boyamin, oknum tersebut diduga meminta uang setoran sebesar Rp5.000 per kilogram barang kiriman dari luar negeri. Namun demikian,npihak perusahaan jasa kurir hanya mampu memberikan sebesar Rp1.000 per kilogram per barang.

"Oleh sebab itu usahanya terus mengalami gangguan selama satu tahun, baik verbal maupun tertulis (bukti surat-surat dilampirkan)," ungkapnya.

Dikatakan Boyamin, oknum petugas tersebut mengancam akan menutup usaha jasa kurir karena tidak membayar sesuai dengan yang diminta. Padahal, perusahaan jasa kurir telah berulang kali menjelaskan kondisi keuangan sedang sulit akibat kondisi pandemi Covid-19.

"Oknum tersebut dengan inisial AB merupakan pejabat bea cukai setingkat eselon III dengan jabatan sejenis Kepala Bidang, dan inisial VI merupakan pejabat setingkat eselon IV dengan jabatan sejenis Kepala Seksi dikantor Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta Tangerang," bebernya.

Adapun, modus dugaan pemerasan/pungli tersebut yakni, terlapor menelpon dan meminta pertemuan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur. Untuk menghilangkan jejak terlapor, pada saat pertemuan meminta agar nomor HP orang keuangan dan staffnya yang terlibat dalam penyerahan uang selama setahun diserahkan dan diganti nomor karena takut disadap.

"Diduga, melalui hubungan telepon terlapor ke pengurus perusahaan, telah meminta pembayaran segera dilaksanakan penyerahan uang dan akhirnya terlaksana penyerahan uang  dugaan nominal sekitar Rp1,7 miliar," katanya.

Diduga, ada banyak perusahaan yang menjadi korban pungli oknum petugas di Bandara Soetta tersebut. Namun, saat ini Boyamin baru mendapatkan satu perusahaan yang bukti dugaan pemerasan atau punglinya cukup lengkap.

"Laporan aduan dugaan pemerasan atau pungli ini telah mendapat tanggapan untuk ditindaklanjuti oleh Kejati Banten. MAKI akan mengawal laporan ini dalam bentuk mengajukan gugatan praperadilan apabila mangkrak proses penanganannya," pungkasnya. (ads)



TAGS :

Komentar