Periksa Wabup Hingga Sekda Buru Selatan, KPK Selidiki Aliran Uang Sang Bupati

  • 11 Maret 2022 15:05 WITA
Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri

Males Baca?


MCWNEWS.COM, JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rampung memeriksa sejumlah saksi mulai dari Wakil Bupati hingga Sekretaris Daerah (Sekda) Buru Selatan pada Kamis, (10/3/2022). Para saksi didalami keterangannya terkait aliran uang dugaan suap dari para kontraktor untuk Bupati nonaktif Buru Selatan, Tagop Sudarsono Soulisa (TSS).

Ali membeberkan sejumlah saksi yang didalami keterangannya soal aliran uang tersebut yaitu, Wabup Buru Selatan, Gerson Eliezer Selsili; Sekda Buru Selatan, Iskandar Walla; Bendahara BPKAD Buru Selatan, Gambar The; Panitia Pengadaan atau Kelompok Kerja (Pokja) pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Rajab Letetuny. 

Kemudian, PNS pada UKPBJ Provinsi Maluku, Asia Amelia Sahubawa; Direktur Utama PT Paris Jaya Mandiri, Charles Fransz; Direktur Utama PT Mutu Utama Konstruksi, Elsye Rinna Kartu; Direktur PT Bupolo Konstruksi Grup, Mahdi Bazargan; Kontraktor di Buru Selatan, Abdul Aziz Husein dan Habib Abdullah Alkatiri; serta Direktur PT Vidi Citra Kencana, Sandra Loppies.

"Para saksi hadir dan didalami pengetahuannya antara lain terkait dengan dugaan berbagai penerimaan sejumlah uang oleh tersangka TSS dari para rekanan kontraktor yang mengerjakan proyek di Pemkab Buru Selatan," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Jumat (11/3/2022).

Sementara itu, terdapat satu saksi yang tidak memenuhi panggilan pemeriksaan KPK yakni, Asisten Rumah Tangga (ART) Tagop Sudarsono Soulisa, Myradiana A Basir. KPK berencan menjadwalkan ulang pemeriksaan terhadap yang bersangkutan.

Diketahui sebelumnya, KPK telah menetapkan mantan Bupati Buru Selatan dua periode, Tagop Sudarsono Soulisa (TSS) sebagai tersangka. Dia ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap, gratifikasi, hingga Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Tagop ditetapkan sebagai tersangka KPK bersama dua orang lainnya. Keduanya yakni, orang kepercayaan Tagop, Johny Rynhard Kasman (JRK) dan pihak swasta, Ivana Kwelju (IK). Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait pengadaan barang dan jasa di Buru Selatan.
Tagop diduga telah menerima fee sedikitnya sekira Rp10 miliar dari beberapa rekanan yang mengerjakan proyek pengadaan barang dan jasa di Buru Selatan. Ia diduga menerima fee sebesar Rp10 miliar melalui Johny Rynhard. Uang sebesar Rp10 miliar itu, salah satunya berasal dari Ivana Kwelju.

Berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan tim KPK, uang sebesar Rp10 miliar itu diduga telah dialihkan oleh Tagop ke sejumlah aset. Tagop diduga mencuci uangnya sejumlah Rp10 miliar dengan membeli aset atas nama orang lain. Hal itu dilakukan Tagop agar aset hasil korupsinya tidak diketahui KPK.

Atas perbuatannya, Ivana Kwelju sebagai pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sedangkan Tagop dan Johny, disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dan Pasal 3 dan atau 4 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. (ads)



TAGS :

Komentar